Sumber gambar: Fokusntb.com

Layanan Kesehatan Meningkat, Tapi Apakah Merata?

Indonesia terus mencatatkan peningkatan dalam layanan kesehatan, mulai dari pembangunan fasilitas modern hingga pengembangan program kesehatan masyarakat. Pemerintah sering kali mengangkat berbagai pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan dalam sektor kesehatan. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah layanan kesehatan yang meningkat ini benar-benar merata di seluruh wilayah Indonesia?

Realita di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan yang mencolok. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, fasilitas kesehatan kelas dunia seperti rumah sakit dengan teknologi canggih dan dokter-dokter spesialis mudah ditemukan. Namun, di daerah terpencil dan perbatasan, pelayanan kesehatan sering kali minim. Masyarakat di wilayah ini masih harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar.

Kasus operasi bedah jantung terbuka pertama di Indonesia Timur, yang dilakukan di RSUP Dr. Ben Mboi, adalah salah satu contoh ketimpangan ini. Prestasi ini memang patut diapresiasi, tetapi pada saat yang sama mengungkap kenyataan bahwa layanan yang sudah lama tersedia di kota besar baru mulai diakses oleh masyarakat di wilayah timur. Bukankah ini menunjukkan bahwa Indonesia tertinggal dalam memastikan akses layanan kesehatan yang adil?

Selain itu, upaya memperbaiki kualitas air minum melalui surveilans juga memunculkan tanda tanya. Data menunjukkan bahwa banyak rumah tangga di pedesaan masih bergantung pada sumber air yang tidak layak. Edukasi tentang pentingnya kualitas air memang dilakukan, tetapi tanpa infrastruktur yang memadai, masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan air yang tersedia, meski berisiko terhadap kesehatan mereka.

Kolaborasi dengan lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menjadi sorotan. Meski pendekatan ini bisa efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, tantangannya terletak pada penerapannya di wilayah dengan keberagaman budaya dan agama. Apakah semua elemen masyarakat akan merasa terakomodasi dengan pendekatan yang cenderung homogen ini?

Pada akhirnya, keberhasilan di sektor kesehatan harus dinilai bukan hanya dari apa yang telah dicapai, tetapi dari siapa yang dapat menikmati pencapaian tersebut. Ketimpangan yang terus terjadi menjadi pengingat bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia masih memiliki jalan panjang untuk memastikan bahwa setiap individu, tanpa memandang lokasi atau status sosialnya, memiliki hak yang sama untuk hidup sehat. Tanpa pemerataan, pencapaian ini hanya akan menjadi ilusi keberhasilan.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment