Sumber foto: Apakabar.co.id

Jakarta Banjir Lagi: Mengapa Penanganan Drainase Masih Belum Optimal?

Hujan deras yang mengguyur Jakarta kembali membawa kabar yang sudah tak asing: banjir melanda. Tiga ruas jalan di Jakarta Barat, termasuk Jalan Strategi Raya, Jalan Basoka Raya, dan Jalan Patra Raya, dilaporkan tergenang dengan ketinggian air hingga 40 cm. Meski banjir semacam ini sudah menjadi pemandangan biasa, pertanyaan mendasar tetap tak terjawab: mengapa penanganan drainase di Jakarta masih jauh dari optimal?

Setiap musim hujan, masalah ini berulang. Genangan yang menghambat aktivitas warga dan merusak infrastruktur seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di ibu kota. Pemerintah daerah sering kali mengklaim telah melakukan berbagai upaya mitigasi, mulai dari pengerukan saluran air hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut belum mampu mengatasi akar permasalahan.

Salah satu masalah utama adalah buruknya perencanaan dan implementasi sistem drainase. Banyak saluran air yang tersumbat akibat tumpukan sampah atau sedimentasi yang tidak tertangani secara rutin. Bahkan, kawasan-kawasan yang seharusnya menjadi prioritas dalam perbaikan infrastruktur sering kali terabaikan. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak dapat mengalir dengan lancar dan justru meluap ke jalanan serta permukiman warga.

Selain itu, urbanisasi yang tak terkendali juga memperburuk situasi. Pembangunan masif tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan telah mengurangi area resapan air. Betonisasi yang meluas menggantikan ruang hijau, sehingga air hujan tidak dapat terserap ke dalam tanah dengan optimal. Masalah ini diperparah dengan kurangnya koordinasi antarinstansi dalam menangani isu banjir, sehingga respons terhadap situasi darurat sering kali lambat dan tidak efisien.

Kondisi ini jelas merugikan masyarakat. Aktivitas warga terganggu, jalanan macet, dan risiko kesehatan meningkat akibat genangan air yang kotor. Meski BPBD DKI Jakarta telah berupaya keras mengatasi situasi dengan penyedotan air dan pembersihan saluran, langkah-langkah ini hanya bersifat reaktif. Tanpa strategi jangka panjang yang menyeluruh, banjir akan terus menjadi mimpi buruk bagi warga Jakarta.

Pemerintah perlu menunjukkan komitmen nyata dalam mengatasi masalah ini. Penanganan banjir tidak bisa hanya menjadi proyek musiman yang muncul ketika bencana sudah terjadi. Dibutuhkan langkah preventif yang melibatkan perbaikan sistem drainase, pengendalian pembangunan, serta edukasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Sudah saatnya Jakarta berhenti sekadar mencari solusi jangka pendek. Dengan perencanaan matang, koordinasi yang baik, dan kesadaran bersama, ibu kota seharusnya bisa terbebas dari bayang-bayang banjir yang selalu kembali menghantui.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment