Sumber foto: News.detik.com

Simbolisasi Darah dalam Politik: Apa Makna di Balik Aksi Cap Jempol Darah Kader PDIP?

Aksi cap jempol darah yang dilakukan oleh kader PDI Perjuangan dalam rangka memperingati HUT partai dan mendukung kepemimpinan Megawati Soekarnoputri serta Hasto Kristiyanto mencuat sebagai fenomena yang patut direnungkan. Aksi simbolis ini, meskipun diwarnai semangat loyalitas dan militansi terhadap partai, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang apakah simbolisasi darah masih relevan dan diperlukan dalam praktik politik kontemporer.

Di tengah semakin terfragmentasinya politik Indonesia dan meningkatnya polarisasi, cara-cara ekspresif seperti ini seakan mengingatkan kita pada praktik-praktik politik yang lebih agresif dan penuh gejolak. Apa yang seharusnya menjadi ruang untuk kebijakan berbasis rasionalitas dan dialog kini justru dibingkai dengan simbol darah—sesuatu yang identik dengan pertumpahan dan pertarungan. Ketika kader-kader partai mengangkat jempol mereka yang terlumuri darah sebagai tanda dukungan, bukankah itu menciptakan kesan bahwa kesetiaan terhadap partai harus dibayar dengan darah? Bukankah hal ini justru menggambarkan suatu ideologi militan yang jauh dari esensi demokrasi yang mengedepankan kebebasan berpendapat dan musyawarah?

Lebih jauh lagi, aksi ini mencerminkan kekhawatiran akan adanya penguatan kekuasaan yang mengutamakan loyalitas buta daripada kontribusi nyata dalam pengembangan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Aksi cap darah ini dapat menimbulkan kesan bahwa di dalam sebuah partai, kesetiaan bukanlah soal pemikiran kritis dan konstruktif, melainkan lebih kepada pernyataan simbolis yang terikat pada kehendak satu atau dua tokoh sentral. Ini berisiko menciptakan budaya ketakutan dan keterpaksaan di dalam tubuh partai, di mana suara-suara yang berbeda atau kritis tidak diberi tempat.

Simbolisasi darah, yang mengandung konotasi pertumpahan dan kekerasan, seharusnya tidak dihadirkan dalam arena politik yang seharusnya mengutamakan penghormatan terhadap perbedaan dan penguatan demokrasi. Jika politik terus dipahami sebagai pertarungan atau pertempuran yang harus dibayar dengan pengorbanan fisik, kita malah akan semakin jauh dari cita-cita politik yang mengutamakan kebijakan pro-rakyat, keadilan, dan perdamaian.

Tentu saja, dukungan terhadap pemimpin dan partai politik adalah hal yang sah dan wajar dalam sistem demokrasi. Namun, cara untuk menyampaikan dukungan tersebut seharusnya mencerminkan kedewasaan dan kedalaman berpolitik yang berlandaskan pada ide dan gagasan, bukan pada simbol-simbol kekerasan atau pengorbanan fisik. Harus ada ruang untuk suara-suara yang kritis dan memperjuangkan ide-ide yang lebih visioner, tanpa harus terjebak dalam simbol-simbol yang hanya mempertegas kesetiaan semu yang dibangun di atas ketakutan dan tekanan.

Aksi cap jempol darah ini tidak hanya menjadi soal seberapa besar dukungan terhadap Megawati atau Hasto Kristiyanto, tetapi juga membuka ruang untuk merenungkan apa yang sebenarnya kita perjuangkan dalam berpolitik. Apakah kita hanya mendewakan kesetiaan buta kepada tokoh tertentu, atau kita lebih menekankan pada penguatan kebijakan yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik? Politik seharusnya memberi jalan untuk kebebasan berpikir, bukan terjebak dalam simbolisme yang justru memperburuk iklim politik di tanah air.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment