Insiden perusakan Polsek Watulimo di Trenggalek oleh massa perguruan silat pada malam 20 Januari 2025 mengungkapkan sisi gelap dari konflik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih bijak. Aksi massa yang berujung anarkis, merusak fasilitas umum, dan menyebabkan luka pada tiga anggota kepolisian, jelas menjadi peringatan keras bagi masyarakat dan pihak berwenang. Konflik antar perguruan silat yang menjadi pemicu perusakan ini menyoroti ketidakmampuan dalam menanggulangi perbedaan secara damai, serta lemahnya sistem pengendalian emosi dalam menghadapi ketegangan sosial.
Keberadaan perguruan silat sebagai bagian dari budaya dan tradisi Indonesia seharusnya dapat menjadi sarana untuk memperkuat rasa kebersamaan dan persatuan, bukan sebaliknya menjadi pemicu kekerasan. Namun, insiden di Watulimo menunjukkan bahwa beberapa kelompok dalam perguruan silat cenderung memanfaatkan kekuatan fisik sebagai bentuk penyelesaian masalah, bahkan sampai merusak fasilitas negara. Peristiwa ini mencoreng citra perguruan silat yang sejatinya memiliki tujuan mulia untuk membentuk pribadi yang disiplin dan berkarakter.
Lebih jauh lagi, perusakan Polsek Watulimo menunjukkan lemahnya pendekatan kepolisian dalam menangani konflik seperti ini. Meskipun upaya persuasif sudah dilakukan, namun aksi massa yang membawa kekerasan tetap terjadi. Keputusan untuk membubarkan massa dengan tembakan peringatan, meskipun sah dari sisi hukum, tidak dapat dibenarkan sepenuhnya jika tidak didahului oleh pendekatan yang lebih manusiawi dan preventif. Hal ini menuntut adanya evaluasi dalam prosedur pengendalian kerumunan, serta peningkatan keterampilan komunikasi dan mediasi dalam menyelesaikan ketegangan sosial.
Kekerasan dalam bentuk apapun, baik dari kelompok perguruan silat maupun pihak berwenang, tidak boleh dianggap sebagai solusi. Semangat persatuan dan kebersamaan yang harusnya tercermin dalam perguruan silat malah tergerus oleh perilaku anarkis yang merusak. Keamanan dan ketertiban yang seharusnya menjadi prioritas utama justru terancam. Peristiwa seperti ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih bijak dalam menyelesaikan perbedaan dan menjaga kedamaian. Dengan pendekatan yang lebih preventif, kita dapat menghindari kekerasan yang hanya merugikan semua pihak dan mencoreng citra kebudayaan bangsa.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.