Sumber foto: Tribunnews.com

Monsun Asia dan Banjir Jakarta: Siklus Berulang yang Tak Pernah Diantisipasi?

Jakarta kembali terendam. Hujan deras sejak malam hingga pagi hari membuat sungai meluap, jalan-jalan berubah menjadi aliran air, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir datang tanpa aba-aba—atau lebih tepatnya, tanpa kesiapan yang memadai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa fenomena Monsun Asia menjadi pemicu utama hujan ekstrem yang berujung pada banjir ini. Namun, apakah benar penyebabnya hanya karena fenomena alam? Ataukah ada faktor lain yang lebih sistemik dan sudah lama diabaikan?

Jika kita menilik lebih dalam, Jakarta tidak hanya menghadapi hujan yang turun dari langit, tetapi juga permasalahan tata kota yang carut-marut. Drainase yang buruk, alih fungsi lahan yang tak terkendali, serta kurangnya kesadaran dalam pengelolaan lingkungan membuat hujan deras menjadi bencana tahunan.

Monsun Asia mungkin tak bisa dihentikan, tetapi banjir seharusnya bisa dicegah. Sejumlah negara dengan curah hujan tinggi seperti Jepang atau Belanda telah berhasil menerapkan sistem pengendalian banjir yang efektif. Lantas, mengapa Jakarta masih berkutat dengan masalah yang sama setiap tahunnya?

Pemerintah terus berjanji akan memperbaiki infrastruktur pengendali banjir, dari normalisasi sungai hingga pembangunan waduk dan tanggul. Namun, langkah-langkah ini sering kali terkendala oleh tarik-menarik kepentingan politik dan kebijakan yang berubah-ubah setiap pergantian kepemimpinan.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Sampah yang menumpuk di sungai dan saluran air bukan hanya kesalahan pemerintah, tetapi juga bukti bahwa kesadaran lingkungan masih rendah. Ketika sungai berubah menjadi tempat pembuangan, bukan hal mengejutkan jika air meluap dan merendam rumah-rumah di sekitarnya.

Jadi, apakah kita akan terus menyalahkan Monsun Asia? Atau akhirnya kita mau mengakui bahwa banjir Jakarta adalah hasil dari akumulasi kelalaian kita sendiri?

Jika tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan tata kota, sistem drainase, dan pola pikir masyarakat, maka tahun depan, kita akan kembali membaca berita yang sama. Jakarta banjir, warga mengungsi, dan pejabat hanya bisa berkata: “Hujan ekstrem penyebabnya.”

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Arsitek Transformasi

Share:

Tags:

Leave a Comment