Sumber foto: Tribunnews.com

Ketika Standar Kecantikan Menekan: Aurel, Berat Badan dan Budaya Body Shaming

Di balik keberhasilan Aurel Hermansyah menurunkan berat badan hingga 18 kg, ada kisah yang lebih besar dan sering terabaikan: tekanan sosial yang dihadapi perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang sempit. Bukan rahasia lagi bahwa figur publik, terutama wanita, kerap menjadi sasaran komentar pedas tentang tubuh mereka. Dalam kasus Aurel, hujatan karena berat badannya menjadi pemicu untuk perubahan—tetapi apakah ini benar-benar kemenangan?

Di era media sosial, standar kecantikan sering kali ditentukan oleh algoritma dan ekspektasi tidak realistis. Tubuh kurus kerap dianggap sebagai tolak ukur utama kecantikan, sementara bentuk tubuh yang tidak sesuai dengan “standar” rentan menjadi bahan kritik, bahkan hinaan. Body shaming, baik terang-terangan maupun terselubung, masih menjadi masalah yang mengakar. Ketika seseorang berhasil menurunkan berat badan, sering kali apresiasi yang diberikan bukan karena kesehatannya yang membaik, melainkan karena ia kini lebih “sesuai” dengan ekspektasi sosial.

Tentu saja, menjaga kesehatan adalah hal penting. Namun, narasi yang muncul dari kisah seperti ini seakan-akan menegaskan bahwa seseorang baru bisa diterima dan dihargai setelah berhasil “memperbaiki” tubuhnya. Padahal, setiap orang seharusnya merasa berharga terlepas dari ukuran tubuh mereka.

Alih-alih terus mengabadikan budaya body shaming, sudah saatnya kita menggeser fokus dari sekadar bentuk tubuh menuju penerimaan diri dan kesehatan yang sesungguhnya. Bukan karena ingin memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi demi kesejahteraan diri sendiri.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Arsitek Transformasi

Share:

Tags:

Leave a Comment