Sumber foto: Kompas.com

Pers atau Alat? Menelisik Pernyataan Prabowo tentang Kuasa Media di Tangan Pemodal Besar

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengingatkan tentang pengaruh pemodal besar terhadap media mengundang berbagai respons dan refleksi. Dalam konteks demokrasi yang sehat, media seharusnya berfungsi sebagai pengawas sosial, penyebar informasi, dan pendorong partisipasi publik. Namun, ketika media berada di tangan segelintir pemodal, pertanyaan mendasar muncul: apakah pers masih bisa menjalankan fungsinya dengan independen, ataukah ia telah menjadi alat bagi kepentingan tertentu?

Prabowo menyoroti kecenderungan pemodal besar untuk menguasai media dengan tujuan mempengaruhi masyarakat. Hal ini bukanlah isu baru; pengaruh uang dalam industri media telah lama menjadi sorotan. Ketika kepentingan bisnis mengintervensi kebebasan jurnalistik, ada risiko yang sangat nyata: berita yang disajikan tidak lagi objektif, tetapi termanipulasi untuk melayani agenda tertentu. Dalam situasi ini, media bukan lagi sebagai penyambung suara rakyat, melainkan sebagai alat propaganda bagi pemodal.

Lebih jauh, Prabowo juga menekankan pentingnya pers yang waspada terhadap hoaks dan berita palsu. Namun, pertanyaannya adalah, siapa yang akan mengawasi media itu sendiri? Jika pemodal besar menguasai berita, bagaimana kita bisa yakin bahwa informasi yang disampaikan tidak bias? Keberadaan hoaks memang harus diwaspadai, tetapi kita juga tidak boleh melupakan fakta bahwa media yang dikuasai oleh kepentingan tertentu dapat menciptakan narasi yang menyesatkan.

Presiden juga menyerukan pers untuk berpegang pada nilai-nilai Pancasila dan mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat. Namun, retorika ini harus disertai dengan tindakan konkret. Tanpa adanya regulasi yang ketat dan transparansi dalam kepemilikan media, seruan tersebut bisa jadi hanya menjadi jargon belaka. Media yang berlandaskan Pancasila seharusnya berfungsi sebagai pilar demokrasi, tetapi jika ia dijadikan alat oleh pemodal, maka perannya akan terdistorsi.

Kritik terhadap pernyataan Prabowo juga perlu diarahkan kepada tantangan yang dihadapi oleh jurnalis dan media saat ini. Dalam upaya melawan pengaruh pemodal besar, mereka sering kali berada dalam posisi yang sulit. Tuntutan untuk menghasilkan berita dengan cepat sering kali mengorbankan akurasi dan kedalaman analisis. Jurnalis yang berani mengungkap kebenaran sering kali menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk pemilik media mereka sendiri.

Di era di mana informasi dapat disebarkan dengan cepat melalui platform digital, tanggung jawab media menjadi semakin berat. Apakah kita akan terus membiarkan pemodal besar mengendalikan narasi publik, ataukah kita akan berusaha untuk menciptakan ruang bagi perspektif yang lebih beragam? Ini adalah pertanyaan kunci yang perlu dijawab oleh semua pemangku kepentingan dalam industri media.

Sebagai penutup, pernyataan Prabowo tentang pengaruh pemodal besar terhadap media seharusnya menjadi pemicu untuk melakukan introspeksi dan perbaikan. Kita perlu memastikan bahwa pers tidak hanya menjadi alat bagi kepentingan tertentu, tetapi tetap berperan sebagai suara rakyat yang kritis dan independen. Hanya dengan cara ini kita dapat menjaga demokrasi dan menciptakan masyarakat yang lebih berinformasi dan berdaya.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment