Langit Jakarta masih kelabu ketika Adi menyesap kopi sachetnya di teras kontrakan sempitnya. Sudah lebih dari dua tahun ia lulus kuliah, tetapi pekerjaan tetap dengan gaji layak masih juga sebatas angan. “Mungkin memang #KaburAjaDulu,” gumamnya pelan, mengingat tagar yang akhir-akhir ini ramai di media sosial.
Tagar itu bukan sekadar tren. Ia adalah bentuk keputusasaan, jeritan sunyi anak-anak muda yang merasa tidak punya masa depan di negeri sendiri. Dari warung kopi hingga forum daring, diskusi tentang kerja di luar negeri semakin sering terdengar. Di antara mereka, ada yang mencari kesempatan lebih baik, ada pula yang sekadar ingin kabur dari beban hidup yang semakin menghimpit.
Beberapa politisi dan pejabat publik menanggapi fenomena ini dengan nada prihatin. Wakil Menteri Ketenagakerjaan menekankan bahwa bekerja di luar negeri bukanlah solusi instan dan harus dipersiapkan dengan matang. Sementara itu, sejumlah politisi menilai bahwa tren ini mencerminkan kegagalan negara dalam menciptakan lapangan kerja yang layak. Namun, bagi Adi dan jutaan anak muda lainnya, pernyataan semacam itu terdengar seperti janji lama yang terus berulang tanpa perubahan nyata.
Setiap hari, harga kebutuhan pokok naik, sementara upah tetap stagnan. Kesempatan kerja semakin sulit didapat, dan jika pun ada, banyak yang tidak sesuai dengan keahlian atau pendidikan yang mereka tempuh dengan susah payah. Lulusan universitas ternama pun tidak luput dari kegelisahan ini. Mereka tidak ingin hanya sekadar bertahan hidup, mereka ingin berkembang, dihargai, dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, jika tanah air sendiri tak bisa memberi itu, lalu apa salahnya mencoba peruntungan di tempat lain?
Fenomena brain drain semakin nyata. Mereka yang berpendidikan tinggi, yang memiliki keterampilan, memilih untuk meninggalkan negeri ini. Negara-negara lain menyambut mereka dengan tangan terbuka, memberikan gaji layak, kesejahteraan, dan apresiasi yang selama ini sulit mereka dapatkan di tanah kelahiran mereka sendiri.
Sore itu, Adi membuka laptopnya, mencari informasi tentang peluang kerja di luar negeri. Ia bukan tidak cinta Indonesia. Ia hanya ingin hidup lebih baik. Jika bertahan di sini hanya berarti menunggu janji-janji kosong, maka #KaburAjaDulu mungkin memang pilihan terbaik. Ia tahu, banyak yang menghakimi, tetapi yang menjalani semua ini adalah dirinya sendiri.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.