Ketika kabar beredar bahwa Megawati Soekarnoputri dikabarkan akan mendatangi KPK, publik tentu berekspektasi akan adanya kejelasan terkait isu yang tengah bergulir. Namun, yang didapat justru pernyataan singkat dari pengacara Hasto Kristiyanto: “Jangan tanya saya.” Sebuah respons yang terdengar sepele, tetapi sesungguhnya memiliki bobot yang lebih besar dari sekadar kalimat singkat.
Dalam dunia politik Indonesia, diam sering kali lebih bising daripada kata-kata. Ketika pihak yang seharusnya memberikan penjelasan memilih bungkam, yang muncul justru semakin banyak pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini bentuk ketidaktahuan, strategi mengulur waktu, atau ada sesuatu yang lebih besar yang coba disembunyikan?
Pola ini bukanlah hal baru. Kita telah melihatnya berulang kali dalam berbagai kasus yang melibatkan kekuasaan. Jawaban yang menggantung, pernyataan yang ambigu, dan sikap yang lebih condong menghindar daripada menjelaskan. Seakan ada upaya sistematis untuk membentuk narasi yang tidak memberi ruang bagi transparansi.
Padahal, dalam sistem demokrasi yang sehat, kejujuran dan keterbukaan adalah hal yang mutlak. Publik tidak hanya butuh pernyataan formal yang dikemas dengan bahasa politik, tetapi juga keberanian para pemimpin dan pihak terkait untuk berbicara secara jelas dan tegas. Sebab, setiap kali ada upaya untuk menutupi sesuatu, rasa curiga di masyarakat justru semakin tumbuh subur.
Jika kehadiran Megawati di KPK adalah sesuatu yang wajar, mengapa harus ada jawaban yang mengambang? Mengapa tidak ada klarifikasi langsung dari pihak yang bersangkutan? Jika memang tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, seharusnya tidak ada keraguan untuk berbicara di hadapan publik.
Namun, inilah kenyataan politik kita. Transparansi sering kali hanya menjadi jargon, bukan prinsip yang benar-benar diterapkan. Diam menjadi strategi, sementara publik dibiarkan menerka-nerka. Lalu, sampai kapan sikap seperti ini akan terus dipertahankan? Sampai kapan publik harus puas dengan jawaban yang setengah-setengah?
Jika politik terus dikelola dengan narasi yang menghindar, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan terhadap institusi semakin luntur. Karena pada akhirnya, diam bukan hanya sekadar tidak berbicara—diam juga bisa menjadi simbol dari kebungkaman kebenaran.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.