Buku karya Wali Kota Makassar, Danny Pomanto, yang menggambarkan pengalamannya sebagai anak lorong, menghadirkan perspektif yang mendalam tentang kehidupan sosial masyarakat di lorong-lorong kota. Sebagai ruang yang sering terpinggirkan dari perhatian publik, lorong-lorong ini menjadi saksi bisu perjuangan hidup banyak individu yang menghadapi keterbatasan ekonomi, minimnya akses pendidikan, hingga stigma sosial. Refleksi ini tidak hanya menjadi cermin pengalaman personal, tetapi juga kritik atas ketimpangan yang masih nyata di masyarakat perkotaan.
Salah satu poin penting yang diangkat dalam buku ini adalah bagaimana lorong menjadi simbol perjuangan hidup kelas bawah. Di balik sempitnya ruang dan keterbatasan fasilitas, lorong-lorong ini menjadi tempat di mana nilai-nilai solidaritas dan ketangguhan masyarakat tetap hidup. Sayangnya, hal ini juga mencerminkan kegagalan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang layak bagi seluruh warganya. Ketimpangan ini menyoroti bagaimana pembangunan perkotaan sering kali terfokus pada pusat kota, sementara daerah seperti lorong-lorong ini terabaikan.
Danny Pomanto sendiri, melalui narasi di bukunya, memberikan gambaran optimis tentang bagaimana ia berhasil melewati segala keterbatasan tersebut untuk mencapai posisi saat ini. Namun, keberhasilannya tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan realitas sosial yang dihadapi anak-anak lorong lainnya. Tidak semua individu memiliki akses atau peluang yang sama untuk keluar dari lingkaran kemiskinan, sehingga tanggung jawab pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan sistem yang lebih inklusif.
Selain itu, buku ini juga menyentuh sisi emosional pembaca dengan menggambarkan ikatan sosial yang kuat di lingkungan lorong. Namun, pertanyaannya adalah, mengapa masyarakat harus terus-menerus mengandalkan solidaritas komunitas sebagai solusi utama? Bukankah tugas pemerintah untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang layak, dapat diakses oleh semua?
Refleksi sosial dari buku ini juga menjadi kritik atas bagaimana stigma terhadap masyarakat lorong sering kali menghambat mobilitas sosial mereka. Masyarakat sering kali memandang lorong sebagai tempat yang kumuh, berbahaya, dan identik dengan kemiskinan. Stigma ini tidak hanya menghalangi mereka untuk mendapatkan peluang yang lebih baik, tetapi juga menciptakan jurang sosial yang semakin lebar antara kelas atas dan bawah.
Buku ini patut diapresiasi karena mampu membuka mata banyak orang tentang realitas kehidupan di lorong. Namun, sebagai pemimpin daerah, Danny Pomanto memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengubah narasi ini menjadi aksi nyata. Pembangunan yang inklusif, penyediaan fasilitas publik yang merata, dan penghapusan stigma terhadap masyarakat lorong harus menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya sekadar cerita pribadi, tetapi juga ajakan untuk merenungkan apa yang telah dan belum dilakukan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat di lorong-lorong kota. Jika perubahan nyata tidak terjadi, lorong akan tetap menjadi simbol ketimpangan yang seharusnya menjadi masa lalu, bukan masa depan.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.