Sumber foto: Suaramerdeka.com

Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Gagal, Pemerintah Diminta Segera Tindak Lanjuti Evaluasi dan Perbaikan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah untuk mengatasi masalah gizi buruk di Indonesia kini mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan. Sejak diluncurkan pada awal Januari 2025, program ini ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Masalah seperti variasi menu yang terbatas, rasa makanan yang tidak memadai, dan distribusi yang tidak merata, mencuat ke permukaan. Banyak warga yang merasa tidak mendapatkan manfaat optimal dari program ini, bahkan beberapa daerah mengaku belum menerima bantuan sama sekali.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, berjanji akan melakukan evaluasi bertahap terhadap pelaksanaan program ini. Meskipun ia meminta masyarakat memberi waktu satu hingga dua bulan untuk melihat hasil evaluasi, kritik terhadap lambatnya perubahan sudah semakin keras terdengar. Evaluasi besar yang dijadwalkan pada pertengahan tahun 2025 juga tidak cukup memberikan jaminan bahwa program ini akan berjalan lancar, apalagi mengingat dana yang tersedia hanya cukup hingga Juni 2025, dengan anggaran yang diperkirakan belum mencukupi untuk menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Kritik juga muncul terkait anggaran yang dianggap tidak memadai. Pemerintah alokasi dana Rp71 triliun, namun jumlah ini dianggap jauh dari cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan program hingga pertengahan tahun saja. Sementara itu, angka yang diperlukan untuk mengcover seluruh masyarakat yang membutuhkan diperkirakan mencapai Rp420 triliun. Mengingat keterbatasan anggaran ini, program MBG tidak dapat berjalan dengan maksimal, dan distribusi makanan bergizi pun terhambat.

Banyak pihak yang berpendapat bahwa program yang mulanya dipandang sebagai langkah maju dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat ini, justru terkesan terburu-buru dan kurang matang. Pemerintah perlu segera mengevaluasi dan melakukan perbaikan pada berbagai aspek program MBG agar bisa benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Jangan sampai, niat baik untuk mengatasi masalah gizi buruk malah berakhir dengan kegagalan karena perencanaan yang tidak memadai dan implementasi yang terburu-buru.

Pemerintah seharusnya tidak hanya mengandalkan janji evaluasi tanpa memberikan solusi konkret yang bisa dirasakan oleh masyarakat dalam waktu dekat. Masyarakat menunggu langkah nyata, bukan hanya wacana belaka. Jika tidak segera dilakukan perbaikan dan penyesuaian, program Makan Bergizi Gratis yang semula diharapkan menjadi solusi gizi masyarakat bisa berisiko menjadi kegagalan yang berdampak panjang pada kesehatan dan kesejahteraan warga Indonesia.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment