Pernyataan Effendi Simbolon yang menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) membantu melindungi Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dari jeratan hukum menimbulkan banyak pertanyaan serius tentang integritas dan independensi penegakan hukum di Indonesia. Tuduhan tersebut memunculkan dugaan adanya intervensi politik di balik proses hukum yang seharusnya berjalan secara profesional dan bebas dari kepentingan partai maupun individu tertentu.
Effendi Simbolon, mantan politisi PDIP, mengungkapkan bahwa selama ini Jokowi justru berperan dalam menjaga Hasto dari ancaman proses hukum, khususnya terkait penyelidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada periode sebelumnya. Hal ini menjadi sorotan tajam mengingat selama bertahun-tahun publik terus menuntut komitmen pemerintah terhadap pemberantasan korupsi, termasuk terhadap tokoh-tokoh besar partai politik.
Kritik Effendi semakin tajam ketika ia menyinggung tudingan politisasi hukum yang dilontarkan oleh sejumlah elit PDIP setelah Hasto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Effendi menyatakan bahwa tuduhan politisasi itu justru tidak masuk akal karena, menurutnya, Jokowi selama ini telah membantu melindungi Hasto. Pernyataan ini menimbulkan ironi besar, karena elite partai justru mengalihkan isu substansial menjadi serangan politik untuk menutupi dugaan kesalahan yang dilakukan oleh kadernya.
Selain itu, Effendi juga mengkritik Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, yang dinilai harus ikut bertanggung jawab atas kasus yang menimpa Hasto. Sebagai pemimpin partai, Megawati dianggap memiliki kewajiban moral untuk menjelaskan kepada publik mengapa seseorang dengan rekam jejak yang kontroversial tetap diberikan jabatan penting di partai. Alih-alih bersikap tegas terhadap dugaan pelanggaran, partai justru terlihat lebih sibuk mencari pembenaran dan memainkan narasi politisasi hukum.
Kritik ini seolah menyoroti masalah yang lebih besar di tubuh partai politik, khususnya terkait lemahnya pengawasan internal dan kecenderungan melindungi kader tertentu demi menjaga citra partai. Jika tuduhan Effendi benar, maka ini bukan hanya mencerminkan persoalan di PDIP, tetapi juga menjadi cerminan buruk bagi pemerintahan Jokowi yang selama ini mengklaim komitmen terhadap pemberantasan korupsi.
Penegakan hukum yang tegas dan adil tanpa pandang bulu merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Ketika proses hukum dijadikan alat politik atau terhambat oleh kepentingan pribadi dan kelompok, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah dan institusi hukum akan terus terkikis. Kritik Effendi Simbolon seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak, baik pemerintah, partai politik, maupun masyarakat, untuk mengawasi dan memastikan bahwa hukum benar-benar ditegakkan tanpa intervensi politik.
Jika kasus ini tidak diselesaikan secara transparan, maka akan sulit bagi publik untuk percaya bahwa negara ini benar-benar serius dalam memerangi korupsi. Alih-alih menjadi contoh, tokoh-tokoh partai justru memperlihatkan wajah buram demokrasi yang sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompok, menjauhkan bangsa dari cita-cita reformasi dan keadilan yang sesungguhnya.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.