Sumber foto: Ruzkaindonesia.id

Biokompos: Solusi atau Hanya Gimmick? Menyoal Efektivitas Program Pengurangan Sampah di Panmas

Program biokompos yang digencarkan oleh Kecamatan Pancoran Mas (Panmas), Kota Depok, telah menarik perhatian publik. Dengan pendistribusian ratusan pipa biokompos dan alat bor kepada masyarakat, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Namun, muncul pertanyaan kritis: apakah program ini benar-benar efektif atau hanya menjadi gimmick untuk memenuhi target administratif tanpa evaluasi mendalam?

Dalam praktiknya, pembuatan biokompos memang terkesan sederhana dan murah. Pemerintah bahkan mengklaim metode ini dapat diterapkan di rumah tangga dengan mudah. Namun, keberhasilan sebuah program tidak hanya bergantung pada ketersediaan alat, tetapi juga pada edukasi, pendampingan, dan komitmen masyarakat. Tanpa strategi implementasi yang komprehensif, ada risiko bahwa alat-alat ini hanya akan menjadi pajangan atau tidak digunakan secara maksimal.

Selain itu, pendekatan pengolahan sampah organik seperti biokompos perlu mempertimbangkan karakteristik masyarakat setempat. Tidak semua warga memiliki lahan yang cukup untuk menggali lubang biokompos, terutama di wilayah urban seperti Panmas. Ditambah lagi, tanpa pengawasan yang jelas, bagaimana pemerintah dapat memastikan bahwa warga benar-benar menggunakan alat tersebut sesuai tujuan?

Di sisi lain, persoalan volume sampah yang terus meningkat bukan hanya masalah organik. Sampah anorganik, seperti plastik, juga menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Sayangnya, program biokompos tidak menyentuh akar masalah pengelolaan sampah secara holistik, seperti pengurangan produksi sampah anorganik atau daur ulang. Fokus yang terlalu sempit pada biokompos berpotensi menciptakan celah dalam pengelolaan sampah yang lebih besar.

Selain itu, target ambisius seperti “Zero Waste 2050” membutuhkan integrasi yang lebih solid antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Distribusi alat semata tidak cukup untuk mewujudkan tujuan ini. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan, insentif bagi masyarakat yang berkontribusi, serta inovasi teknologi yang dapat mempercepat pengolahan sampah di tingkat sumber dan wilayah.

Terakhir, pemerintah daerah perlu menunjukkan transparansi dalam evaluasi program ini. Seberapa besar pengurangan sampah yang dihasilkan dari program biokompos? Bagaimana keberlanjutan program ini di tahun-tahun mendatang? Tanpa data dan evaluasi yang jelas, sulit untuk mengukur efektivitas program ini sebagai solusi nyata, bukan sekadar pencitraan.

Biokompos, dalam ide dasarnya, adalah langkah positif untuk mengelola sampah organik. Namun, tanpa strategi pelaksanaan yang matang, evaluasi berkelanjutan, dan integrasi dengan program pengelolaan sampah lain, upaya ini dikhawatirkan akan menjadi solusi setengah hati yang tidak mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah secara menyeluruh. Pemerintah perlu memastikan bahwa program ini bukan hanya sekadar gimmick, tetapi benar-benar menjadi langkah konkret menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment