Komentar yang dilontarkan oleh Canda Suswono terkait nama tambahan “Si Doel” yang dipakai oleh Rano Karno, pasangan Gubernur terpilih Jakarta, menjadi topik yang menarik untuk dikritisi. Dalam acara penetapan pasangan Pramono Anung dan Rano Karno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Suswono, yang mewakili Ridwan Kamil, menyampaikan candaan kepada Rano Karno, mengatakan, “Saya kira kasian juga kalau sudah mengganti nama, kalau sampai enggak terpilih juga ya. Makanya kami juga legawa lah.”
Komentar ini, meski disampaikan dalam suasana yang tampaknya ringan dan penuh tawa, dapat dibaca dengan berbagai perspektif. Di satu sisi, candaan ini bisa dianggap sebagai guyonan politik yang bertujuan untuk meredakan ketegangan dan memberikan kesan akrab antar para politisi. Namun, di sisi lain, ia juga menimbulkan pertanyaan lebih dalam tentang taktik terselubung yang mungkin sedang diterapkan dalam situasi politik yang semakin kompetitif.
Mengaitkan keputusan pribadi Rano Karno dalam mengganti nama dengan keberhasilannya dalam Pilgub Jakarta dapat dipandang sebagai strategi yang kurang elegan. Seperti yang diketahui, Rano Karno memutuskan untuk menambahkan nama “Si Doel” ke dalam namanya secara resmi melalui proses hukum, dengan harapan dapat lebih mudah dikenal publik. Bagi sebagian kalangan, ini merupakan langkah branding yang sah, namun bagi sebagian lainnya, ini mungkin dianggap sebagai langkah yang berlebihan atau bahkan sebagai upaya untuk mengeksploitasi popularitas karakter fiksi yang sangat terkenal.
Lelucon yang dilontarkan Suswono pun seolah mempersoalkan seberapa jauh identitas politik seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal semacam itu. Jika keberhasilan seseorang dalam memenangkan pemilu, dalam hal ini Rano Karno, lebih disandarkan pada popularitas sebuah nama yang sudah dikenali publik daripada substansi dari program kerja dan visi-misinya, maka ini bisa menjadi indikasi bahwa politik Indonesia masih sangat bergantung pada media dan citra, bukan pada pemahaman mendalam tentang kualitas kepemimpinan.
Namun, lebih dari sekadar masalah nama atau candaan semata, komentar Suswono juga menyiratkan adanya kesadaran tentang kenyataan pahit dalam politik: bahwa di balik setiap kemenangan ada pengorbanan, dan bahkan orang yang sudah “legawa” pun masih harus menerima kenyataan tersebut. Sebagai pihak yang kalah, meskipun secara tak langsung, Suswono tampaknya mengingatkan bahwa politik sering kali bukan hanya soal siapa yang terbaik, tetapi siapa yang paling dikenal dan mampu menarik perhatian.
Pada akhirnya, kritik terhadap komentar Suswono harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Bagaimana cara kita memandang politik, apakah hanya sekadar ajang untuk menunjukkan siapa yang paling berani, paling terkenal, atau apakah kita benar-benar menginginkan perubahan yang substantif dalam tata kelola pemerintahan. Candaan tersebut, meski ringan, membawa pesan yang mendalam tentang dinamika di balik layar politik Jakarta yang penuh dengan strategi, pencitraan, dan pengaruh media.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.