Prolog
Tulisan ini hanya berusaha menjawab beberapa pertanyaan atau pernyataan yang sebenarnya sering dan lumrah ditanyakan oleh sebagian besar mahasiswa. Ketika masuk kampus pertama kali ada beberapa pesan dari para senior dan bahkan beberapa dosen untuk memberikan arahan untuk mahasiswa supaya jangan terlibat dalam kegiatan berorganisasi.
Yah, pada intinya berorganisasi dinilai sebagai hal yang cukup negatif dan dipandang memperhambat proses kuliah oleh sebagian kalangan mahasiswa dan dosen. Tapi menariknya penilaian yang dilakukan oleh kaum yang dianggap memiliki kemampuan akademis, tidak berbasis pada pemikiran secara lengkap dan cendrung bias pada satu dua hal pengalaman pribadi yang rapuh.
Organisasi
Sependek pengetahuan yang dimiliki penulis, manusia merupakan makluk sosial yang tentunya dalam aktivitas sehari – hari melekat dan akan terus berupaya bekerja sama dan membangun kelompok untuk mencapai kebutuhan – kebutuhan dasar manusia. Organisasi dalam historisnya secara efektif dan efisien di desain untuk mencapai hal – hal yang tidak mampu dilakukan individu atau secara perseorangan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Terutama dalam hal keamanan, pemenuhan kebutuhan primer, pemenuhan kecakapan/skill individu dan pemenuhan psikologis manusia.
Kita tentu secara tanpa sadar bahwasanya setiap hari kehidupan kita diatur oleh organisasi. Baik keluarga, kampus, negara dan kelompok – kelompok panitia kecil, kelas ataupun komunitas sekalipun. Organisasi tentunya punya banyak jenis dan tujuannya. Dalam organisasi yang modern mempunyai sistem yang cendrung mendorong peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai basis utama dalam memanajemen organisasi mencapai tujuan – tujuannya. Ini tentunya sejalan dengan apa yang menjadi tangung jawab pendidikan tinggi dalam melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang berkompeten dan memilik kecakapan empati dan sosial.
Sebagai contoh coba perhatikan mahasiswa – mahasiswa disekitar Kita yang sering menjadi pemimpin dalam organisasi kemahasiswa baik Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Organisasi Daerah (Orda) mereka merupakan kebanyakan hasil dari produk organisasi-organisasi yang secara reguler dan didesain dengan kurikulum untuk mencetak pemimpin – pemimpin dan skill yang tentunya tidak dilahirkan dari ruang kelas atau perkuliahan semata.
Konstruktivisme Organisasi
Secara sederhana banyak variabel yang mempengaruhi mengapa mahasiswa seharusnya berorganisasi. Yang pertama dan utama kehidupan sosial secara realitas merupakan pertarungan material ekonomi, mengingat keterbatasan dan kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA) dalam pemenuhan keberlangsungan kehidupan manusia. Manusia perlu secara bersama-sama mencari solusi dan alternatif dalam keadan yang kompleks ini.
Kedua, manusia cenderung menjadi serigala bagi manusia lain seperti apa yang dikatakan Thomas Hobbes. Untuk itu manusia punya potensi untuk melakukan hal – hal yang merugikan manusia lain dan berorganisasi merupakan upaya dari menghidari hal ini. Dalam konteks politik ini menjadi sebagai kekuatan untuk melawan penyelewengan yang dilakukan oleh penguasa dan mempengaruhi kebijakan secara efektif dalam ruang publik.
Ketiga, manusia cendrung tidak rasional dan dipenuhi oleh ketidaktahuan serta dipenuhi dengan pikiran dogmatis bahwasanya kehidupan merupakan sesuatu yang normatif dan percaya terhadap takdir Tuhan. Dalam organisasi Kita cendrung melihat realitas sosial dan relasi sosial secara logis berbasis ilmu pengetahuan dan mengedepankan multi-perspektif dengan keberagaman dalam proses kerja-kerja organisasi yang bersifat substansi maupun teknis.
Keempat, sebagai mahasiswa dan dengan status yang penuh dengan harapan akan masa depan tentunya mempunyai banyak tanggung jawab. Tanggung jawab utama adalah tanggung jawab sosial yang dilandasi dengan moral dan etika ilmu pengetahuan dalam menyambung suara – suara harapan kehidupan. Organisasi seperti penulis katakan diawal mempunyai desain dan sistem kerja yang yang membumi (realitas sosial) dalam upaya melatih dan mempersiapkan mahasiswa dalam kehidupan sosial yang tentunya relevan dengan masing-masing passion individu.
Kita harus sadar dan segara sadar bahwasanya Kita hidup setiap detik diatur dan dipengaruhi oleh organisasi. Keluarga, RT/RW, Kampus, perusahaan tempat kita bekerja nanti dan negara semuanya tidak akan hidup dalam ruang hampa. Individu-individu menjadi bagian yang hidup didalamnya secara teratur dan dibatasi oleh kesepakatan atau norma aturan bersama dan sekali lagi ruang publik dalam konteks negara penuh dengan penyelewengan bagi penguasa elit negara. Mengingat variabel-variabel yang disampaikan diatas untuk itu sebagai makluk sosial dan berstatus mahasiswa Kita sudah seharusnya melatih diri untuk berorganisasi dan menyiapkan banyak hal dalam meraih masa depan.
Terahkir, dalam pemenuhan kapasitas mahasiswa baik skill dan jejaring tentunya sangat mampu memberikan manfaat terhadap mahasiswa. Mahasiswa yang beroganisasi cendrung memiliki jejaring yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tidak beroragnisasi. Pada intinya skill atau kemampuan berbanding lurus dengan jejaring, yang menjadi modal utama mahasiswa dalam memasuki dunia kerja di masa depan.
Kesimpulan
Organisasi dalam bentuk apapun didesain dan dijalankan utamanya dalam pemenuhan kebetuhan hidup secara luas dan dikondisikan oleh sistem kerja yang disepakati oleh bersama merupakan keharusan bagi manusia sebagai makluk sosial. Organisasi dengan berbagai tujuan merupakan cara terbaik manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup material ekonomi, melatih ketarampilan/skill dan melindungi individu dari rasa aman dan memperjuangkan tanggung jawab dan kepentingan hak-hak individu. Mahasiswa dalam upaya untuk masa depan dan menjalankan tugasnya sudah seharusnya berorganisasi. Sekali lagi kita tidak akan hidup tanpa organisasi.
Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.