Sumber foto: Jateng.disway.id

Minim Antisipasi, Bencana di Petungkriyono Pekalongan Tunjukkan Lemahnya Mitigasi Bencana

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, membawa duka mendalam bagi masyarakat setempat. Hingga kini, 11 orang dilaporkan meninggal dunia, dan 15 lainnya masih hilang. Bencana ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur, memutus akses jalan, dan membuat ribuan warga terdampak. Di balik musibah ini, muncul pertanyaan besar terkait kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana yang kerap mengancam wilayah tersebut.

Petungkriyono adalah daerah dengan kontur pegunungan yang rentan terhadap bencana longsor, terutama saat musim hujan. Namun, fakta menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana di kawasan ini masih sangat minim. Tidak ada sistem peringatan dini yang memadai, sementara infrastruktur pendukung seperti tanggul penahan dan saluran air yang baik nyaris tidak tersedia. Hal ini menjadi tanda tanya besar mengingat wilayah tersebut telah lama diketahui memiliki risiko bencana yang tinggi.

Ketidaksiapan pemerintah terlihat jelas dari lambatnya penanganan di lapangan. Saat bencana terjadi, tim penyelamat menghadapi berbagai kendala, seperti akses jalan yang rusak parah dan minimnya peralatan yang memadai. Hal ini menghambat proses evakuasi korban dan distribusi bantuan kepada warga terdampak. Keterbatasan ini menunjukkan kurangnya perhatian serius terhadap investasi pada perlengkapan dan pelatihan untuk menghadapi situasi darurat.

Selain itu, edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana tampaknya juga masih diabaikan. Banyak warga yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang, sehingga jumlah korban jiwa semakin bertambah. Tidak adanya simulasi rutin atau sosialisasi terkait tanggap darurat bencana membuat masyarakat menjadi kelompok yang paling rentan ketika bencana terjadi.

Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki sistem mitigasi bencana. Tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pasca-bencana; yang dibutuhkan adalah tindakan preventif yang konkret dan berkelanjutan. Penguatan infrastruktur, sistem peringatan dini, serta pendidikan masyarakat harus menjadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Bencana di Petungkriyono seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Tidak ada alasan lagi untuk mengabaikan risiko yang sudah jelas ada. Jika mitigasi bencana tetap diabaikan, maka korban jiwa dan kerugian besar akan terus menjadi cerita yang berulang. Pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk melindungi warganya, dan kegagalan dalam melaksanakan tanggung jawab ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Bencana alam memang tak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan dengan persiapan yang matang dan komitmen nyata.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment