Sumber foto: Liputan6.com

Jakarta Tenggelam Lagi: Sampai Kapan Masalah Banjir Tak Kunjung Terselesaikan?

Hujan deras yang mengguyur Jakarta kembali memperlihatkan kelemahan sistem drainase dan tata kota yang selama ini menjadi sorotan. Sejumlah wilayah dan ruas jalan terendam banjir, menghambat aktivitas warga dan menimbulkan berbagai kerugian. Meski pemerintah telah berulang kali berjanji untuk mengatasi masalah ini, kenyataannya, setiap musim hujan datang, ibu kota tetap kewalahan menghadapi genangan air.

Banjir yang melanda beberapa titik di Jakarta kali ini tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kawasan Monas yang seharusnya menjadi ikon nasional justru digenangi air setinggi 30 sentimeter, mencerminkan buruknya sistem pengelolaan air di pusat pemerintahan. Di Jakarta Barat, warga Kapuk Raya harus berhadapan dengan air setinggi 30 sentimeter yang masuk ke rumah mereka. Bahkan, belasan RT dan puluhan ruas jalan terendam, mengakibatkan kemacetan parah dan mengganggu roda ekonomi kota.

Setiap kali Jakarta dilanda banjir, berbagai alasan selalu muncul sebagai pembelaan. Mulai dari intensitas hujan yang tinggi, pasang air laut, hingga penyumbatan sampah di saluran air. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa masalah ini terus berulang? Bukankah pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk proyek penanggulangan banjir? Lalu, ke mana efektivitas proyek-proyek tersebut jika banjir tetap menjadi momok tahunan?

Salah satu permasalahan utama adalah buruknya tata kelola drainase. Banyak saluran air yang tersumbat akibat sampah dan sedimentasi, sementara sungai-sungai yang seharusnya menjadi jalur pembuangan air justru menyempit akibat pembangunan yang tidak terkontrol. Di sisi lain, upaya memperbanyak ruang hijau dan resapan air masih kalah dengan gencarnya proyek reklamasi serta pembangunan gedung-gedung tinggi yang mempersempit kawasan terbuka hijau.

Selain itu, koordinasi antarinstansi juga masih menjadi kendala. Pemerintah daerah dan pusat sering kali saling melempar tanggung jawab, alih-alih bekerja sama untuk mencari solusi konkret. Padahal, tanpa sinergi yang kuat, program penanggulangan banjir hanya akan menjadi proyek yang menghabiskan anggaran tanpa hasil nyata bagi masyarakat.

Masyarakat Jakarta seharusnya tidak terus-menerus menjadi korban kebijakan yang tidak efektif. Pemerintah harus berhenti mencari kambing hitam dan mulai serius dalam membenahi infrastruktur air dengan pendekatan yang berkelanjutan. Pembersihan drainase harus dilakukan secara berkala, penataan ulang kawasan rawan banjir perlu segera direalisasikan, dan yang terpenting, harus ada ketegasan dalam menegakkan aturan terkait tata kota.

Tanpa langkah konkret dan komitmen yang kuat, banjir akan terus menjadi bencana tahunan yang menghantui Jakarta. Warga akan terus hidup dalam ketakutan setiap kali hujan deras turun, sementara pemerintah hanya sibuk membuat wacana tanpa tindakan nyata. Sudah waktunya Jakarta benar-benar bebas dari banjir, bukan sekadar janji yang selalu diulang setiap musim penghujan tiba.

Disclaimer: Seluruh isi konten sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Mahasiswa Ilmu komunikasi Konsentrasi Jurnalistik

Share:

Tags:

Leave a Comment